Politik Penuh dengan Penghianatan Terhadap Rakyat
POLITIK itu kejam adalah istilah lama yang kadang kita lupakan. Kita melupakannya mungkin karena kita bermain di dalamnya, sehingga tanpa sadar kita tidak akan mau mengakui kekejaman yang kita lakukan, baik terhadap lawan politik maupun kepada mereka yang pernah mendukung kita.
Dalam perpolitikan yang pestanya 9 April 2009 lalu, telah memberikan hasil yang sungguh mencengangkan banyak pihak. Partai Demokrat yang pada pemilu 2004 lalu hanya memperoleh suara sekitar 7%, kini di pemilu 2009, suaranya naik drastis sekitar 20%. Tentu saja, kemenangan Demokrat membuat bara api di dalam partai-partai lain yang suaranya jauh dari harapan.
Saya heran, kok Hanura dan Gerindra atau partai lain nyebrang ke Megawati. Padahal, pemilih partai-partai itu kan dahulunya (bukan pendukung Megawati). Artinya, setelah hasil suaranya diketahui, semestinya mereka lebih condong ke Demokrat bukan ke Megawati. Makanya, heran bila ada kecenderungan Ketua PPP ingin berkoalisi ke PDIP. Bayangkan apa kata pemilih setia PPP,… mereka lebih mendukung SBY daripada Mega.
Setelah Pemilu usai, memang akhirnya banyak elite menghianati para pemilihnya. Bukan hanya itu, elite parpol justru gak peduli akan nasib kader-kadernya yang berjibaku mendulang suara untuk elite parpolnya. Meski mereka kalah bahkan sampai stress… nyatanya gak ada elite parpol yg didukungnya ikut turun membantu atau memberikan harapan kader-kadernya yang stress itu.
Jangan pilih politisi busuk!




